Blog Archive
fblike
balacinema
Balaguris89
widgeonline dan amungonline kirteng
networkedblogs
iklan adsensecamp
Tampilkan postingan dengan label Jurnal Kedokteran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal Kedokteran. Tampilkan semua postingan
Head Trauma (Trauma Kepala)
Trauma merupakan penyebab utama kematian pada anak yang lebih tua dari 1 tahun di Amerika Serikat, dengan trauma kepala yang mewakili 80% atau lebih dari cedera. Pada sekitar 5% dari kasus trauma kepala, pasien meninggal di lokasi kecelakaan. Trauma kepala memiliki dampak emosional tinggi, psikososial, dan ekonomi karena pasien ini sering tinggal di rumah sakit yang relatif panjang, dan 5-10% memerlukan fasilitas perawatan jangka panjang.
Decompensatio Cordis
Penyakit Jantung dan pembuluh darah di Indonesia sudah merupakan masalah kesehatan masyarakat, sebagaimana diketahui dari SKRT (Survai Kesehatan Rumah Tangga) tahun 1992 dan tahun 1995 penyakit jantung dan pembuluh darh menduduki peringkat pertama sebagai penyebab kematian (Anonim, 1998). Walaupun angka-angka yang pasti belum ada untuk seluruh Indonesia, tetapi dengan perubahan pola hidup masyarakat yang modern serta kemajuan fasilitas kesehatan dapat diperkirakan jumlah penderita gagal jantung akan bertambah setiap tahunnya.
Limfogranuloma Venereum
Limfogranuloma venereum (Limfopatia venereal, limfogranuloma inguinale) adalah infeksi fokal yang infeksius dan kontagius yang disebabkan oleh serotipe tertentu dari Chlamydia trachomatis (L1-L3) dengan kemungkinan terjadi infeksi asenden melalui pembuluh limfe, kebanyakan ditularkan melalui hubungan seksual dan biasanya berlokasi pada daerah genito-anal (Rassner dan Steinert, 1995). Penyakit ini terutama terdapat di negara tropik dan sub tropik, penderita pria pada sindrom inguinal lebih banyak dari pada wanita dan biasanya terjadi pada umur seksual aktif (Djuanda, 2001). Limfogranuloma venereum merupakan penyakit yang jarang ditemukan di Amerika utara, Eropa, Australia. Prevalensi tertinggi ditemukan di Afrika bagian timur dan barat, India, Asia tenggara dan Amerika selatan (Perine dan Stamm, 1999). Sejak tahun 1950, negara-negara di Eropa melaporkan kasus limfogranuloma venereum tidak pernah lebih dari satu lusin. Sedangkan di Amerika Serikat kasus limfogranuloma venereum setiap tahunnya sekitar 595 kasus. Negara Ethiopia melaporkan kasus limfogranuloma venereum setiap tahunnya sampai beberapa ribu kasus (Perine dan Stamm, 1999).
Infeksi Nosokomial
Penyakit infeksi merupakan permasalahan besar yang dihadapi oleh Rumah Sakit, baik di negara maju maupun negara berkembang, termasuk Indonesia. Infeksi Nosokomial merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengendaliannya. Laporan WHO tahun 1986 tentang surveinya di 47 Rumah Sakit di 14 negara, ainfeksi nosokomial menjangkau paling sedikit 9% (variasi 3%-21%) dimana 18% pasien mengalami kondisi kronis. Infeksi osokomial dapat terjadi baik di negara industri maupun negara berkembang dan sebagian besar masalah dan kendala yang dihadapi hampir sama untuk seluruh Rumah Sakit. Tummbeleka AR (1999) melaporkan hasil survailens infeksi nosokomial di RSCM 1991-1998 prevalensinya antara 1,1-3%, dan ternyata lebih rendah dari angka berbagai negara yang berkisar 3,3-9,2%, kecuali jika terdapat tendensi penurunan prevalensi luas dari tahun ke tahun. Penyakit Infeksi Nosokomial adalah infeksi yang diperoleh seseorang di Rumah Sakit, belum dijumpai saat seseorang masuk Rumah Sakit, dan tidak dalam masa inkubasi penyakit tersebut.
Pengelolaan dan Pengobatan Hipertiroidi
Hipertiroidi (penyakit Graves, PG) atau juga disebut tirotoksikosis adalah suatu keadaan akibat peningkatan kadar hormon tiroid bebas dalam darah. PG pertama kali dilaporkan oleh Parry pada tahun 1825, kemudian Graves pada tahun 1835 dan disusul oleh Basedow pada tahun 1840. Distribusi jenis kelamin dan umur pada penyakit hipertiroidi amat bervariasi dari berbagai klinik. Perbandingan wanita dan laki-laki yang didapat di RSUP Palembang adalah 3,1: 1 di RSCM Jakarta adalah 6: 1, di RS. Dr. Soetomo 8: 1 dan di RSHS Bandung 10 :1.1 Sedangkan distribusi menumt umur di RSUP Palembang yang terbanyak adalah pada usia 21-30 tahuii (41,73%), tetapi menurut beberapa penulis lain puncaknya antara 30-40 tahun.
Terapi Rasional Tuberkulosis Paru
Seratus tahun setelah ditemukannya kuman Tuberkulosis (TB) oleh Robert Koch, dan hampir 40 tahun sesudah penemuan streptomisin, WHO berani memberi komentar, bahwa: "Negaranegara maju telah berhasil dalam pemberantasan TB selama lebih dari tiga dekade terakhir. Namun sebaliknya di kebanyakan negara-negara berkembang TB paru masih merupakan masalah, karena perbaikan dalam bidang epidemiologi masih sangat kurang". Diperkirakan bahwa tiap tahun sekitar 10 juta orang menderita TB dan sekurang-kurangnya 3 juta orang meninggal akibat TB. Risiko mendapatkan TB di negara-negara berkembang sekitar 20-50 kali lebih besar dari pada di negaranegara maju (WHO, 1982).
Diagnosis Tuberkulosis Paru
Arifin Nawas
UPF Paru Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta
UPF Paru Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta
Tuberkulosis (TB) adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, khas ditandai dengan terjadinya pembentukan granuloma dan nekrosis. Infeksi ini paling sering mengenai paru, akan tetapi dapat juga meluas mengenai organorgan tertentu.
Cara penularan TB paru dapat terjadi secara langsung melalui percikan dahak yang mengandung kuman TB, terisap oleh orang sehat melalui jalan napas dan kemudian berkembang biak di paru. Dapat juga terjadi secara tidak langsung bila dahak yang dibatukkan penderita ke lantai atau tanah kemudian mengering dan menyatu dengan debu, lalu beterbangan di udara; bila terisap orang sehat akan dapat menjadi sakit. Berdasarkan cara-cara penularan ini, TB paru juga dimasukkan dalam golongan airbone disease.
Cara penularan TB paru dapat terjadi secara langsung melalui percikan dahak yang mengandung kuman TB, terisap oleh orang sehat melalui jalan napas dan kemudian berkembang biak di paru. Dapat juga terjadi secara tidak langsung bila dahak yang dibatukkan penderita ke lantai atau tanah kemudian mengering dan menyatu dengan debu, lalu beterbangan di udara; bila terisap orang sehat akan dapat menjadi sakit. Berdasarkan cara-cara penularan ini, TB paru juga dimasukkan dalam golongan airbone disease.
Hiperglikemia Pada Stroke Perdarahan: Prevalensi, Komorbiditas dan PerannyaSebagai Faktor Prognosis
Peningkatan glukosa darah terjadi dalam fase awal stroke. Penelitian sebelumnya, secara umum fokus pada stroke nonhemoragi. Studi tentang hiperglikemia pada stroke hemoragi akut masih terbatas. Metode: Analisis dilakukan untuk data sekunder dari 78 pasien stroke hemoragi. Analisis data secara deskriptif. Data yang disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Paket statistik digunakan untuk menganalisis data. Hasil: Data diperoleh dari 78 kasus stroke hemoragik. Usia rata-rata 57,8 tahun. Saat ini, penderita hiperglikemia terdapat 22 (28,2%) kasus. Komorbiditas yang paling umum adalah hipertensi dan dislipidemia. Tingkat kematian adalah 15,2%. Tidak ada bukti menunjukkan bahwa tingkat glukosa darah secara signifikan lebih tinggi dalam kasus yang fatal. Perhitungan leukosit secara signifikan lebih tinggi pada kasus yang fatal. Kesimpulan: Hiperglikemia merupakan kondisi yang sangat umum dalam stroke akut. Pemahaman dari klinis akan sangat penting. Studi ini tidak menunjukkan korelasi dari hiperglikemia dengan kematian di rumah sakit.
Peran USG Sebagai Alat Bantu Diagnostik Pada Penyakit Demam Berdarah Dewasa
Perubahan patofisiologi yang penting pada penyakit demam berdarah (DBD) adalah permeabilitas kapiler yang meningkat sehingga menimbulkan kebocoran cairan plasma dari intravaskular ke ruang ekstravaskular. Menemukan secara awal adanya kebocoran plasma merupakan salah satu bentuk antisipasi terhadap terjadinya syok hipovolemik. Pemeriksaan hematokrit tidak selalu dapat diharapkan memberikan informasi adanya ekstravasasi. Pemeriksaan USG merupakan alternatif untuk mengetahui adanya ekstravasasi cairan. Tujuan penelitian. (1) Mengetahui gambaran USG pada pasien DBD berkaitan dengan peningkatan permeabilitas vaskular, (2) Mengetahui nilai diagnostik peningkatan hematokrit >20% pada pasien dengan DBD dewasa. Rancangan penelitian. Deskriptif analitik Subyek penelitian. Sebanyak 60 pasien DBD dewasa di RS RK Charitas, Palembang, selama selama periode bulan Juli 2005 s/d Juli 2006 dilibatkan dalam penelitian. Analisis statistik. Data dianalisis menggunakan uji t-test dan korelasi Pearson Hasil penelitian. (1) Adanya ekstravasasi plasma dijumpai berupa penebalan dinding kandung empedu (76,7%), asites (56,7%), efusi pleura (48,3%), (2) Nilai diagnostik peningkatan hematokrit >20% dalam membantu menentukan adanya hemokonsentrasi memiliki sensitivitas, spesifisitas, positive predictive value dan negative predictive value adalah; 42,0%, 81,8%, 80% dan 45%. Kesimpulan. (1) Pemeriksaan USG dapat membantu dalam menemukan adanya ekstravasasi plasma pada penderita DBD, (2) Peningkatan hematokrit >20% memiliki spesifisitas cukup tinggi namun nilai sensitivitasnya rendah.
Manfaat Bakteri Probiotik untuk Kesehatan Manusia
Probiotik adalah suplemen makanan yang mengandung mikroorganisme hidup, dikonsumsi dengan tujuan memberi banyak manfaat untuk kesehatan manusia. Probiotik banyak digunakan dalam produk-produk makanan di Jepang dan Eropa, sebagian besar probiotik digunakan dan tersedia dalam produk susu fermentasi, khususnya yoghurt. Bakteri yang bermanfaat sebagai probiotik diantaranya Lactobacillus spp., Bifidobacterium spp., Lactococcus spp., dan Streptococcus spp. Para peneliti telah menemukan bahwa koloni bakteri di saluran pencernaan penting untuk kesehatan manusia dan hewan, diantaranya pada sistem imunitas intestinal, sistem urogenital, menurunkan efek alergi, dan manfaat-manfaat lainnya.
Petunjuk Praktis Terapi Insulin pada Pasien Diabetes Melitus
Penemuan insulin lebih dan 80 tahun yang lalu merupakan salah satu penemuan terbesar dalam dunia kedokteran pada abad ke-20. Saat in penggunaan insulin mengalami kemajuan yang pesat. Beberapa kemajuan itu antara lain dalam hal jumlah penggunaan insulin per pasien, perbaikan mutu insulin, dan cara penggunaan insulin. Penemuan insulin dimulai dan jenis yang belum dapat dibuat dengan murni, kemudian insulin manusia yang dibuat dengan rekayasa genetika, sampai insulin analog dengan farmakokinetik menyerupai insulin endogen. Diabetes melitus tipe 2 (DMT 2) merupakan penyakit progresif dengan karakteristik penurunan fungsi sel beta pankreas. Seiring meningkatnya angka kejadian DMT 2, terutama pada orang berusia relatif muda dan kemungkinan usia hidup masih panjang, maka semakin banyak pasien DMT 2 dengan defisiensi insulin. Pada kasus-kasus tersebut, akan dibutuhkan insulin dalam penatalaksanaannya.
Diare Akut
Diare akut adalah diare yang berlangsung ≤ 14 hari. Penyebab diare akut dapat berupa infeksi ataupun noninfeksi. Secara patofisiologi, diare akut dapat dibagi menjadi diare inflamasi dan noninflamasi. Berbagai patogen spesifik dapat menimbulkan diare akut. Diare juga dapat terjadi pada pasien immunocompromised dan pasien yang di rawat di rumah sakit. Untuk mendiagnosis diare akut diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang sesuai. Terapi terpenting pada diare akut adalah rehidrasi, lebih disenangi melalui rute oral dengan larutan yang mengandung air, garam, dan gula. Terapi antimikrobial empiris hanya diperlukan pada keadaan khusus.
Diagnosis Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) Secara Klinis
Gastroesophageal Reflux disease (GERD) adalah suatu kondisi dimana cairan lambung mengalami refluks ke esofagus sehingga menimbulkan gejala khas berupa rasa terbakar, nyeri di dada, regurgitasi dan komplikasi. GERD merupakan penyakit kronik yang memerlukan pengobatan jangka panjang sehingga berdampak terhadap penurunan produktivitas, kualitas hidup. Anamnesis gejala klinis tipikal, adanya faktor risiko dan test PPI dapat menegakkan diagnosis GERD lebih dini sehingga komplikasi dapat dicegah. Penatalaksanaan GERD dapat berupa pengobatan non farmakologis seperti mengubah gaya hidup diperlukan dalam penatalaksanaan pasien. Penggunaan PPI diperlukan untuk mengurangi gejala refluks. Untuk pasien yang sudah lanjut mengalami komplikasi penggunaan PPI setiap hari diperlukan.
Hiperparatiroidisme Primer
Hiperparatiroidisme primer adalah suatu keadaan di mana ditemukan kelebihan produksi hormon paratiroid (parathyroid hormone, PTH) yang tidak teregulasi akibat hiperfungsi pada kelenjar paratiroid dan merupakan penyebab utama terjadinya hypercalcemia. Insiden hiperparatiroidisme primer ratarata 42 kasus per 100.000 populasi, dan meningkat dengan bertambahnya usia, terutama ada wanita. Etiologi yang paling sering adalah adenoma pada satu kelenjar paratiroid (±80%) kasus dan hiperplasia kelenjar paratiroid yang multipel (12-15% kasus). Sebagian besar hiperparatiroidisme primer bersifat asimptomatik, beberapa penderita mengeluhkan gejala neurocognitive yang samar-samar, seperti depresi, mudah lelah, kelemahan pada otot proksimal, dan lesu, sehingga sering tidak terdiagnosis. Diagnosis hiperparatiroidisme primer ditegakkan berdasarkan peningkatan kadar PTH dan kalsium dalam darah. Pemeriksaan pencitraan jarang dilakukan untuk mendiagnosis hiperparatiroidisme primer, biasanya dilakukan untuk menentukan lokasi kelenjar paratiroid yang mengalami kelainan pada saat preoperatif. Penatalaksanaan hiperparatiroidisme primer meliputi cara pembedahan dan nonbedah, di mana cara pembedahan merupakan pilihan terbaik.
Asam Valproat ( Anti Epilepsi ) Untuk Mencegah Migren
Migren merupakan nyeri kepala primer yang cukup sering dijumpai. Serangan migren terkadang sangat menganggu baik kehidupan sosial maupun ekonomi penderita. Semakin sering terjadi serangan, kehidupan penderita akan semakin terganggu, sehingga perlu diberikan terapi pencegahan. Beberapa obat yang bisa dipakai untuk pencegahan migren adalah: Ca blocker (flunarizin, nimodipin), penyekat beta (propanolol, timolol), antidepresan (amitriptilin, nortriptilin, flouxetin), antiepilepsi (asam valproat, gabapentin, topiramat). Artikel ini membahas satu kasus penderita migren yang mengalami perbaikan setelah diterapi dengan obat antiepilpepsi yaitu asam valproat.
Diagnosis Dan Terapi Cairan Pada Demam Berdarah Dengue
Demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Sampai saat ini, infeksi virus Dengue tetap menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Indonesia dimasukkan dalam kategori “A” dalam stratifikasi DBD oleh World Health Organization (WHO) 2001 yang mengindikasikan tingginya angka perawatan rumah sakit dan kematian akibat DBD, khususnya pada anak. Data Departemen Kesehatan RI menunjukkan pada tahun 2006 (dibandingkan tahun 2005) terdapat peningkatan jumlah penduduk, provinsi dan kecamatan yang terjangkit penyakit ini, dengan case fatality rate sebesar 1,01% (2007). Sampai saat ini, belum ada terapi yang spesifik untuk DBD, prinsip utama dalam terapi DBD adalah terapi suportif, yakni pemberian cairan pengganti.6 Dengan memahami patogenesis, perjalanan penyakit, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium, diharapkan penatalaksanaan dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
Hepatitis Virus
Hepatitis adalah suatu keadaan peradangan jaringan hati, yang dapat disebabkan oleh infeksi atau non infeksi. Salah satu gejala yang dapat terlihat pada pasien hepatitis adalah kulit dan sklera mata menjadi berwarna kuning (ikterus). Hepatitis biasanya terjadi karena virus, terutama virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Virus tersebut dapat menyebabkan keadaan hepatitis akut dengan manifestasi klinis yang bervariasi dari tanpa gejala sampai gejala yang paling berat, bahkan kematian. Hepatitis A dan E tidak menyebabkan kronisitas, sebaliknya hepatitis B, C, D dapat menimbulkan keadaan infeksi yang menetap yang akan menjadi hepatitis kronis, sirosis, dan kanker hati.
Uremia
Timothy W. Meyer, M.D., and Thomas H. Hostetter, M.D.
Medical progress has altered the course and thus the definition of uremia, which once encompassed all the signs and symptoms of advanced kidney failure. Hypertension due to volume overload, hypocalcemic tetany, and anemia due to erythropoietin deficiency were once considered signs of uremia but were removed from this category as their causes were discovered. Today the term “uremia” is used loosely to describe the illness accompanying kidney failure that cannot be explained by derangements in extracellular volume, inorganic ion concentrations, or lack of known renal synthetic products. We now assume that uremic illness is due largely to the accumulatioorganic waste products, not all identified as yet, that are normally cleared by the kidneys.
Pengelolaan Dan Pencegahan Diabetes Melitus
Artikel ini berisikan konsensus pengelolaan dan pencegahan bagi penyandang diabetes yang merupakan revisi konsensus pengelolaan Diabetes Melitus (DM) di Indonesia hasil kesepakatan para pakar DM di Indonesia yang mulai dirintis PB PERKENI sejak pertemuan tahun 1993 di Jakarta. Revisi buku konsensus 2006 adalah revisi ketiga kalinya, setelah revisi buku konsensus pertama tahun 1998 dan revisi kedua tahun 2002. Mengingat sebagian besar penyandang diabetes adalah kelompok DM tipe-2, konsensus pengelolaan ini terutama disusun untuk DM tipe-2, sedang untuk kelompok DM tipe-1 dan pengelolaan diabetes pada kehamilan dibicarakan dalam buku panduan tersendiri.
Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka insidens dan prevalensi DM tipe-2 di berbagai penjuru dunia. WHO memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandang diabetes yang cukup besar untuk tahun-tahun mendatang. Untuk Indonesia, WHO memprediksi kenaikan jumlah pasien dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Laporan dari hasil penilitian di berbagai daerah di Indonesia yang dilakukan pada dekade 1980 menunjukkan sebaran prevalensi DM tipe-2 antara 0,8% di Tanah Toraja, sampai 6,1% yang didapatkan di Manado.
Manajemen Pankreatitis Akut
Pankreatitis akut terjadi akibat proses autodigesti jaringan pankreas oleh enzim yang dihasilkan pankreas sendiri. Patogenesis pankreatitis akut sangat kompleks dan multifaktorial. Terjadinya pankreatitis akut diawali karena adanya jejas di sel asini pankreas yang dapat disebabkan oleh karena; obstruksi duktus pankreatikus, stimulasi hormon cholecystokinin (CCK) sehingga akan mengaktivasi enzym pankreas, atau oleh karena iskemia sesaat sehingga dapat meningkatkan degradasi enzim pankreas. Sekitar 80% perjalanan klinis pankreatitis akut bersifat ringan dengan mortalitas 1%, dan sebanyak 10-20% berkembang menjadi pankreatitis akut berat dengan risiko mortalitas 20-50%. Komplikasi pankreatitis akut berat dapat bersifat lokal (abses, nekrotik, pseudocyst) atau bersifat sistemik (gagal organ multipel). Manajemen pankreatitis akut tergantung pada derajat penyakitnya. Pankreatitis akut ringan tidak perlu tindakan operatif, cukup terapi konservatif dan tidak perlu antibiotika. Sementara itu manajemen pankreatitis akut berat bersifat interdisipliner yang melibatkan intencivist, radiologist, endoscopist dan dokter bedah, dan memerlukan perawatan khusus, bila perlu di ICU, mengingat risiko terjadinya gagal organ multipel pada minggu pertama perjalanan penyakit. Terapi suportif, nutrisi enteral dan pemberian antibiotika profilaktik pada pankreatitis nekrosis akut dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas. Pada saat ini terapi pankreatitis akut berat telah bergeser dari tindakan pembedahan awal ke perawatan intensif agresif. Seiring dengan kemajuan di bidang radiologi dan endoskopi, intervensi tindakan bedah dapat diminimalisasi. Tindakan bedah diindikasikan apabila ada pankreatitis nekrosis akut terinfeksi.
Langganan:
Postingan (Atom)
Label
Ageing
(1)
Alergi
(4)
Asma bronkial
(2)
Bedah
(6)
Bedah Digestif
(2)
Cardiology
(1)
COPD
(1)
Dermato Venerology
(9)
Diabetes Melitus
(4)
Emergency
(3)
Farmakologi
(1)
Fisiologi
(1)
GCS
(1)
Generals
(33)
GIT Tract
(8)
Herbal
(1)
Imunologi
(2)
Infertilitas
(1)
Infos
(2)
Interna
(31)
Jurnal Kedokteran
(34)
Kelainan Genetik
(1)
Masalah Pria
(1)
Masalah Wanita
(1)
Mentalic
(1)
Mineral
(1)
Neurology
(6)
Neurology - Penyakit Saraf
(6)
Nutrisi dan Gizi
(2)
Obstetri dan Ginekologi
(3)
Pediatri
(5)
Pengobatan dan Obat-obatan Alternatif
(1)
Penis
(2)
Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
(1)
Penyakit Kulit dan Kelamin
(1)
Penyakit Menular
(6)
Praktis
(8)
Pulmonologi
(7)
Radiologi
(1)
Request
(1)
research
(1)
Rumah Sakit
(1)
Sinusitis
(1)
Suplemen makanan
(2)
TBC - Tuberculosis Paru
(4)
Terapi
(1)
THT
(3)
Trauma Kepala
(1)
Tropical Disease
(1)
Urologi
(1)
Vagina
(1)
Vitamin
(1)
