translate

English French Japanese Arabic Chinese Simplified

Masukkan email untuk berlangganan:

Blog Archive

fblike

balacinema

Balaguris89

IDIonline

Membership P2KB IDI

widgeonline dan amungonline kirteng

bg banner dan widgeopr

networkedblogs

iklan adsensecamp

Tampilkan postingan dengan label Dermato Venerology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dermato Venerology. Tampilkan semua postingan

Skleroderma

Skleroderma adalah merupakan suatu model dari penyakit fibrotik kulit, yang ditandai dengan adanya pengerasan dan penebalan kulit. Manisfestasi dari skleroderma bisa dalam bentuk sistemik dan lokal. Progressive Systemic sclerosis (PSS) adalah merupakan kerusakan jaringan konektif secara menyeluruh. Proses fibrotik tidak hanya berpengaruh pada kulit tetapi juga pada hati, jantung, ginjal dan traktus Gastrointestinal.


Scabies




Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap sarcoptes scabiei var, hominis dan produknya. Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain; sosial ekonomi yang rendah, hegiene yang buruk, hubungan seks yang sifatnya promiskuitas.


Parapsoriasis

Parapsoriasis merupakan penyakit kulit yang belum diketahui penyebabnya, pada umumnya tanpa keluhan, kelainan kulit terdiri atas eritema dan skuama, berkembangnya perlahan, perjalanannya umumnya kronik.


Limfogranuloma Venereum

Limfogranuloma venereum (Limfopatia venereal, limfogranuloma inguinale) adalah infeksi fokal yang infeksius dan kontagius yang disebabkan oleh serotipe tertentu dari Chlamydia trachomatis (L1-L3) dengan kemungkinan terjadi infeksi asenden melalui pembuluh limfe, kebanyakan ditularkan melalui hubungan seksual dan biasanya berlokasi pada daerah genito-anal (Rassner dan Steinert, 1995). Penyakit ini terutama terdapat di negara tropik dan sub tropik, penderita pria pada sindrom inguinal lebih banyak dari pada wanita dan biasanya terjadi pada umur seksual aktif (Djuanda, 2001). Limfogranuloma venereum merupakan penyakit yang jarang ditemukan di Amerika utara, Eropa, Australia. Prevalensi tertinggi ditemukan di Afrika bagian timur dan barat, India, Asia tenggara dan Amerika selatan (Perine dan Stamm, 1999). Sejak tahun 1950, negara-negara di Eropa melaporkan kasus limfogranuloma venereum tidak pernah lebih dari satu lusin. Sedangkan di Amerika Serikat kasus limfogranuloma venereum setiap tahunnya sekitar 595 kasus. Negara Ethiopia melaporkan kasus limfogranuloma venereum setiap tahunnya sampai beberapa ribu kasus (Perine dan Stamm, 1999).


Cantarides Dermatitis (Insect Bite)

Cantarides Dermatitis (Insect Bite) merupakan kelainan kulit akibat gigitan, tusukan atau reaksi terhadap toksin/bahan alergen yang dikeluarkan oleh serangga (Artropoda) penyerang. Penyakit ini bisa terjadi pada semua umur dan frekuensi pada wanita dan pria sama saja. Biasanya terjadi di daerah atau lingkungan yang banyak serangga, seperti perkebunan, persawahan dll.


Allergic Drug Eruption

Definisi dari erupsi obat alergik atau allergic drug eruption ialah reaksi alergik pada kulit atau daerah mukokutan yang terjadi sebagai akibat pemberian obat. Dari anamnesa penderita didapatkan keluhan, yaitu muncul sisik di seluruh tubuh yang didahului dengan kulit berwarna merah dan gatal, karena minum jamu. Dan pada pemeriksaan klinis didapatkan deskuamasi dengan patch eritema diseluruh tubuh, hal ini dapat dijadikan dasar untuk mendiagnosa erupsi obat.


The Ageing Theory

Ada sejumlah banyak hipothesis proses penuaan yang berkembang selama beberapa dekade terakhir. Di antara hipotesis-hipotesis itu adalah hipothesis evolusi, hipothesis regulasi gen, hipothesis telomere, hipothesis stres oksidatif, hipothesis neuroendokrin, dan hipothesis neuroendokrin-imun. Argumentasi hipothesis evolusi adalah bahwa proses penuaan merupakan produk non-adaptif dari pelemahan progresif seleksi alam yang terjadi seiring dengan bertambahnya umur.






Teh Hijau Sebagai Anti Hiperpigmentasi Karena Paparan Ultra Violet

Senyawa katekin teh hijau merupakan antioksidan alam yang mempunyai potensi menghambat terjadinya pigmentasi karena paparan sinar ultra violet (UV). Potensinya dalam menghambat pigmentasi karena paparan UV melalui senyawa katekin yang dimilikinya, terutama epicatecin (EC), epigallocatechin (EGC), epicatechin-3-gallate (ECG) dan epicatechin-3-gallate (EGCG), yang dapat berkompetisi dengan enzim L-tirosinase dan terikat pada tempat aktif (active site) dari tirosinase. Akibatnya terjadi hambatan kerja dari tirosinase yang menyebabkan terhambatnya pembentukan pigmen melanin, sehingga dapat mengurangi hiperpigmentasi pada kulit.


Berbagai Pengawet Kosmetik sebagai Penyebab Dermatitis Kontak Alergi

Kosmetik adalah bahan yang diaplikasikan secara topikal dengan tujuan untuk memperbaiki penampilan. Pengawet adalah bahan kimia biosidal yang ditambahkan dalam kosmetik, obat topikal, makanan dan produk industri lainnya supaya terjaga dari kemungkinan kontaminasi mikroorganisme seperti bakteri, jamur, kapang dan alga yang berimplikasi pada percepatan proses pembusukan. Pengawet merupakan penyebab terbanyak dermatitis kontak alergi (DKA) karena kosmetik setelah pewangi. Kosmetik berdasarkan tempat aplikasi dibagi menjadi 4 golongan, yaitu kosmetik rambut, wajah, mata, dan kuku, sedangkan menurut fungsinya dikenal kosmetik perawatan dan kosmetik rias (dekoratif). Tinjauan kepustakaan ini membahas berbagai jenis pengawet dalam kosmetik yang sering menyebabkan reaksi sensitisasi, baik dari aspek kimia, aspek klinis, konsentrasi bahan untuk uji tempel, dan reaksi silang, serta manifestasi kelainan lain yang ditimbulkan. Diharapkan dengan lebih mengenal sifat dari berbagai jenis pengawet kosmetik, dapat membantu penderita DKA oleh karena pengawet untuk memilih kosmetik yang aman dan menghindarkan sumber kontak alergi lainnya yang mengandung pengawet yang sama dengan pengawet kosmetik yang telah menimbulkan reaksi alergi pada penderita tersebut.